MUSUH NYATA MANUSIA

Hai manusia…

Tahukah kamu siapa musuh nyata mu

Bukan pesaing mu dalam meraih kesuksesaan

Hai manusia…

Tahukah kamu siapa musuh nyata mu

Bukan yang selama ini membenci dan mencaci mu

Hai manusia…

Tahukah kamu siapa musuh nyata mu

Bukan yang selama ini membohongi dan menipu mu

Hai manusia…

Tahukah kamu siapa musuh nyata mu

Bukan yang selama ini terpikir dalam logika mu

Tapi musuh nyata mu manusia

Yakni “syetan dan pengikutnya”

Sebab setan telah berjanji akan mengelincir Umat Islam

Dari kebaikan menuju kemusnahan

Seperti dinyatakan dalam Al-Quran

Wahai manusia

kokoh iman dan keyakinan PadaNya

PURWOKO


Kebudayaan Indonesia begitu berculture dengan berbagai etnik dan khas sehingga beraplikasi juga pada sebuah nama misalnya Acep Rosada, Nuning, Neneng ini adalah identitas nama orang Sunda. Kemudian nama seperti Situros, Nasution, Sirait pasti itu nama orang batak sedangkan untuk Jawa nama biasanya kebanyakan huruf O seperti nama Purwoko dan Purwani.

“Mas Purwoko” ini adalah salah satu teman di kelas Manajemen Informasi Perpustakaan angakatan 2009 yang membuat bertanya-tanya tentang sebuah nama ini dari sekian banyak teman-teman saya penasaran. Bukan penasarannya tentang kepribadiannya tetapi lebih ingin tahu cara belajarnya dan bagaimana cara berpikir sesuatu berawal dari mana.

“Mas Purwoko” yang pertama kali menyapa saya saat memasuki ruang perkuliahan di MIP masih ingat hal pertama di Tanya pada saya yakni namanya siapa “Mbak”. Karena perkuliahan tiga pertemuan sebelumnya tidak masuk kuliah (izin). Sehingga “Mas Purwoko” bertanya pada saya sebab orang baru nonggol diruang kuliah tersebut jadi wajar untuk saling mengetahui. Kemudian hari ke-2 perkuliahaan bertanya pada “Mas Purwoko” tentang Tarbiyah. Karena dari cara pakaian dan raut wajahnya telah tahu bahwa orang ini pasti pernah mengikuti tarbiyah serta aktif organisasi.

Berjalan dengan waktu dan keakraban di ruangan perkuliahan semakin banyak mengetahui (bukan sok tahu hehhe…) karakter teman-teman terutama “Mas Purwoko”.  Sungguh begitu Smart ini bisa terlihat dari jidatnya yang kayak kepala professor!!!! walaupun pakaiannya sederhana banget tapi pemikiran tidak sesederhana dandannya. Subhanallah setiap “Mas Purwoko” melontarkan atau bertanya baik itu pada tenaga pengajar (Dosen) maupun teman-teman yang presentasi diruang perkuliahan selalu beranjak dari sebuah teori, sebab-akibat, dan analisis yang tanjam. Sehingga siapapun di tanya “Mas Purwoko” saat presentasi pasti akan sulit dan bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut seperti ketika saya presentasi salah satu mata kuliah dimana pertanyaan tentang yang sangat krusial dari topic saya bahas waktu itu. Subhanallah bertanyaan buat bingung menjawab dimana hal yang harus saya jawab pasti bersangkutan dengan Undang-Undang dan peran Pemerintah dari tema saya presentasikan.

Kemudian saat “Mas Purwoko” presentasi semakin terkagum-kagum karena cara penyampaiannya, penjelesan yang secara detail dan ala seperti dosen atau Trainner sehingga teman-teman pada terhipnotis dengan gaya penyanyiannya biasanya teman-teman presentasi tidak seperti itu. Ini merupakan awal baik untuk teman-teman untuk presentasi seperti “Mas Purwoko”. Selanjutnya presentasi tentang Front Office berbasis teknologi sebab materinya sangat-sangat lengkap. Jadi teman-teman belum presentasi harus mempersiapkan bahan presentasi lebih lengkap dari “Mas Purwoko”.

“Mas Purwoko” hanya seorang pustakawan biasa di salah satu Perguruan Tinggi walaupun pustakawan biasa subhanallah memiliki Multi of Skill seperti memecahkan rumus-rumus berbasis teknologi berkaitan dengan HTML dan senyawa  jenis-jenis itu. Selain itu masih banyak skill yang dimiliki “Mas Purwoko” yakni organisasi (leardearship) dan keahlian menulis atau merangkai kata ini tercermin dari blog “Mas Purwoko” dimana setiap pahatan tulisan yang tertuangk diblog itu memberi manfaat yang luar biasa pada pembacanya seperti posting blog terbaru “Mas Purwoko” yang menginspriasi saya untuk mengambil tema tugas kuliah yakni “Transisi Gotong Royong Pada Masyarakat Teknologi Di Indonesia”. Tapi sayang banget tema yang saya konfirmasi pada “mas purwoko” belum dapat restu heheeehehee…..

Cirri khas dari Title (judul) blog “Mas Purwoko” sangat mulia sekali dimana tertampang dipojok kiri atas blog tersebut yakni berbunyi seperti berikut ini seorang pustakawan yang lagi perjuangan untuk mencari kearifan. semoga “Mas Purwoko” menemukan kearifan dimana saja akan tetapi untuk bersua dengan kearifan itu sebaik “Mas Purwoko” terlebih dulu menerapkan kearifan tersebut pada siapapun, sehingga kearifan tersebut kembali padanya lebih cepat dan indah.

Ini merupakan transisi keahlian atau profesionalisme pustakawan masa sekarang dibanding dengan pustakawan kelahiran 70an sebelumnya semoga masih banyak lagi pustakawan seperti “Mas Purwoko” agar image orang-orang pekerja sebagai pustakawan terangkat dimana selama ini pustakawan dianggap adalah orang buangan “tidak memiliki posisi”. Namun pustakawan masa sekarang adalah kunci peradaban informasi sebab pustakawan sebagai mediatof, fasilator, dan.

Tetapi keunikan dari “Mas Purwoko” yakni sekali-kali ketawa sentrik hehhee….truzzzz pas saat kuliah cari makan melulu waaahhhhh jadi curiga juga nich jangan…jangan…jangan Hmmmm pizzz “Mas Purwoko”. Kemudian “Mas purwoko” calon seorang bapak yang menunggu rezki yang mahapemberi. Semoga saja kita-kita (teman MIP) cepat dapat keponanakan lucu hehehe….

Sehingga ada beberapa teman termasuk saya memberi kehormatan pada “Mas Purwoko” yakni bapak filosof di MIP. Saat saya konfirmasi hal ini melalui Yahoo messenger tentang gelar baru di beri teman-teman MIP “Mas Purwoko” kaget lhoooooo….kooookkkkkk…… tapi sayang banget kalau bisa “Mas Purwoko” selesai studi Pascasarjana tidak seorang pustakawan rangkap menjadi dosen (Double Job). Jangan mau dan puas jadi seoranga pustakawan saja. Semoga bisa menerbitkan buku dari konsultasi orang-orang melalui blog “Mas Purwoko” seperti Romy Sastrio Wahono. Sebab bapak Romy bisa menerbitkan buku salah satu indikatornya adalah hasil dari konsultasi orang lewat comment diblog. Kalau sudah tercapai semuanya “Mas Purwoko” jangan lupa teman-teman MIP ditraktir hehehhee…..

KOE RINDU NAMA KOE DIRAK ITU…


Alhamdullah diberikan dan selip hoby membaca dan menulis sebab tidak semua orang dikaruniakan hal tersebut secara bersamaan. Tetapi kedua hal itu tidak bisa dipisahkan dari setiap manusia setiap hari, tiada hari tanpa menulis dan tiada tanpa membaca. Dengan menulis mampu menguraikan kalimat mutiara yang mampu meruntuhkan perasaan manusia dengan kesombongan dan membangkitkan manusia dari kelemahan itu dikarenakan oleh sebuah kalimat kemudian dengan membaca bisa lebih banyak tahu dan mengerti informasi yang berkembang serta apa yang terjadi dibelahan bumi, yang tersembunyi dan apa yang akan terjadi kedepannya.

Karena hoby tersebutlah membuat koe awal bulan atau akhir bulan coba mewajibkan diri untuk menggunjung toko buku baik dari dipinggiran jalan, loak atau dimall-mall. Walaupun tak memiliki bugjet (biaya) khusus untuk buku tapi Alhamdullah masih bisa membelinya karena coba mensisihkan uang Ebulan dari orang tua untuk alokasi kesana yang pasti minimal ada  1 (satu) Eksmpelar buku yang harus terbelikan. Kenapa karena orang yang mempunyai hoby atau kegemeraan pasti akan dikejar dan dikoleksikan barang yang disayangi dengan berbagai cara. “KATA PEPATAH TAK ADA ROTAN KAYUPUN JADI”.

Setiap ke toko buku ada satu yang hal koe rindukan, apalagi melihat buku-buku yang berjejer dirak atalase buku. Coba menghayal tinggi, setinggi apapun yang tinggi ciptaan Rabbi. Walaupun tahu untuk menyelip nama koe dirak itu perlu proses yang lama, proses kegagalan, proses keseriusan, proses profesionalisme, proses cacian, proses keyakinan dan proses kesabaran. Makanya setiap ke tokoh buku pasti berlamaan dikoleksi agama, psikologi, teknologi mana tahu dengan lama berdiri sambil menatap judul buku yang terpajang serta memikir hal apa yang bisa koe bukukan. Agar cipta paling dalam, paling tertinggi, paling koe harapkan, paling inginkan bisa terpajang dirak itu.

Luar biasa angan-angan koe saat ditokoh buku itu, terkadang-kadang angan-angan yang tertinggi itu membuat pertanya pada jiwa sendiri apakah mungkin nama koe bisa terpanjang rak itu, apakah kalimat koe ukirkan nanti bisa diterima pihak penerbit, apakah tulisan koe akan dibaca public…sungguh kata-kata semakin banyak menghiasi logika dan benak ini.

Tapi apapun alasan, kendala, kapanpun, dan bagaimana cara koe harus bisa dan dapat menyelip serta memajang nama koe dirak toko buku serta sampai pada tangan pembaca tidak hanya sebagai barang panjangan tetapi dibaca, diskusi orang banyak, serta sebagai reference bagi siapapun. Karena saat mengikuti pelatihan penulisan bagi citivitas akademika Universitas Gadjah Mada, nara sumber Subhanallah memberi motivor yang luar biasa bagi para peserta. Memang nara sumber tidak terkenal penulis fenomenal lagi popular ditanah air (Indonesia) seperti Habibburahman, Andre Hirata ataupun penulis kambing hitam (Randika) namun nara sumber telah lalang buana dalam dunia penulisan. Saat penyajian materi menyimak penuh keseriusan serta sambil mempersiapkan pertanyaan pada narasumber.

Kedua materi pelatihan itu ada sebuah keajibaan yang luar biasa buat koe terutamanya bisa konsulatasi serta bertanya bagaimana kebiasaan narasumber menulis sehingga bisa menerbitkan buku, artikel, cerpen dan puisi. Semua keyword (kunci) dari penulis dilotarkan semua pada peserta. Sejak pelatihan tersebut rasa rindu yang menggebu-gebu untuk menjadi seorang yang mampu merubah dunia dengan kata-kata semakin luar biasa. semoga rindu secepat mungkin dirak panjang (atalase) ditoko buku baik diklasifikasi agama, cerpen, novel, dan sebagainya. Koe yakin nama seorang cewek yang mengginginkan dibagian banyak nama penulis terdapat namanya disana dengan packing (kemasan) begitu cantik seperti indahnya pemandangan seperti gunung dilihat dari berbagai lini kacamata pembaca.

Demokrasi

Menjelang detak, denyut dan detik demokrasi hajatan

Indonesia raya begitu luas, beragam-ragam dan berpulau-pulau

Di banjirin bahkan di limpahi

Berbagai cobaan serta bencana

Sehingga bencana memborak

Situ gintung, tanah datar, pesawat Fokker, kebakaran

Banjir dan angin putting beliung meluap

Di tanah surga

Apakah alam marah dengan demokrasi

Apakah bumi tak sanggup memikul demokrasi

Apakah angina dan hujan bosa dengan demokrasi

Sehingga sedengkal menjelang

Hajatan Indonesia begitu ratusan malapetaka

Ataukah demokrasi ini sejuta bintik-bintik kecurangan

Apakah bertanda bahwa tuhan begitu marah

Dengan demokrasi ini

Dimana hilir dan hulu pornografi semakin menjamur

Keyakinan semakin jauh dari sang esa, etika musnah

Seakan-akan penipuan, kebohongan dan korupsi

Hal yang wajar bahkan telah mengakar dalam budaya demokrasi

Demokrasi atau aliran mana

Yang harus dipondasikan dan dijunjung tinggi

Di Indonesia raya…

Jeritan demokrasi

Mampukah demokrasi

Merubah atau membalik

Nusa dan tara menjadi indonesia sejahtera

Damai, kemakmuran  serta religius

Mampukah demokrasi itu

Menghapuskan tetesan air mata

Rakyat kecil, pedagang asongan, kelaparan, gizi buruk

Menjadi seutai dan segunung senyuman serta asa

Begitu menarik dan bercorak diraut wajah para pengemis kasihan

Mampukah demokrasi

Menghlilangkan sesak, hembitan dan jeritan

Di jantung, dada, nafas rakyat miskin mencari recehan dan sesuap nasi

Namun mengenang demokrasi telah berlalu

Tak mampu  menghilang itu semua

tetapi menambah getir-getir kepahitan

Mari para petinggi dan fungsionaris

Merapat tangan dan berpikir

Untuk nusa dan tara esok dan lusa

Demi demokrasi berbuah  madu dan berakar keimanan